Secarik Cerita
Secarik Cerita

Secarik Cerita Bukan Resolusi 2023

Just A Lil Prolog

Hellowww MaFren…

Akhirnya kembali ke lembar secarik cerita ini setelah sebulan vakum dikarenakan padatnya urusan kantor menjelang tutup buku akhir tahun dan membuka periode awal tahun baru.

Ya begitulah, tutup buku repot, buka buku periode juga sama repotnya. Sampai sekarang masih aja berlanjut berbagai revisi adanya perubahan ini itu dalam pencatatan transaksi dan juga kebijakan dari manajemen perusahaan.

Ya…perubahan-perubahan itu semua bertujuan untuk capaian yang lebih baik dari tahun lalu.

Secarik Cerita di Akhir 2022

Akhir tahun selalu menjadi momok menakutkan buatku. Hahaha, terdengar lebay? Tapi nyata adanya. Bahkan pernah di akhir tahun berapa, aku sampai konsultasi ke psikolog di salah satu aplikasi kesehatan online hanya karena sudah merasa terganggu.

Terganggu gimana? Ya aku sampai gak tenang tidur, kebangun terus tiap malam, merasa ketakutan, dan pengen kerja terus saking merasa ketakutan.

Namun, konsultasi dengan psikolog itu tidak terlalu banyak membantu. Yang aku lakukan saat itu, lebih banyak berdiam, membuat jurnal, baca buku, melakukan hobi, dan pastinya perbanyak ibadah.

Puji Tuhan, ketakutan dan gangguan mental itu berangsur hilang dan di tahun-tahun berikutnya aku menerapkan self therapy yang sama supaya aku bisa lebih tenang menghadapi akhir tahun dan awal tahun.

Apaan tuh? Nah itu, dua hal yang mewarnai akhir tahunku. Hahaha…suplemen-suplemen yang setiap hari harus aku minum supaya tetap fit dan fokus serta dokumen yang tersebar di sepanjang meja kerja bahkan di meja lain di ruang kerjaku. Pokoknya rame deh.

Dan pastinya akan selalu membawa dokumen saat pulang kerja untuk diselesaikan di rumah. Benar-benar waktuku tersita untuk menuntaskan tugas-tugas akhir tahun.

Ya begitulah kalau di bagian keuangan. Ada tutup buku, istilah untuk menutup segala transaksi keuangan pada satu periode. Nah, kenapa harus menakutkan? Karena aku harus selalu siap dalam mengajukan permintaan dana ke kantor pusat untuk membayar semua pembiayaan yang sudah dianggarkan sebagai beban di 2022.

Namun, di sisi lain aku juga harus selalu menjaga nilai saldo rekening bank dan kas perusahaan di bawah maksimal nilai yang diperkenankan manajemen. Dan karena kantorku itu merupakan kantor wilayah/unit yang membawahi beberapa PT, jadinya aku memegang keuangan operasional untuk beberapa rekening.

Dan bukan hanya itu saja, kunjungan auditor untuk audit akhir tahun yang ikut menambah keruwetan dalam merapikan dokumen dan laporan keuangan yang diminta. Lengkaplah segala cobaan hidup, hahaha. Nih ada fotoku bersama teman-teman saat auditor datang di Desember 2022 kemaren.

Tapi, untuk menyeimbangkan penatnya kerja, untungnya ada acara kumpul-kumpul bareng Karyawan, Staff, dan Pimpinan kantor dalam rangka Tutup Tahun 2022 dan Menyambut Tahun Baru 2023.

Acara itu berupa Gift Change, Makan Bersama, dan Acara Berbagi dengan Anak Yatim. Semuanya dilaksanakan dalam 1 hari. Bwahaha, lagi-lagi lumayan menguras tenaga ya. Tapi endingnya bikin happy dan menjalin keakraban walaupun ada beberapa orang kantor yang gak ikut karena keburu cuti.

Begitulah riweuhnya akhir tahunku yang bukan hanya bikin aku gak sempat mengurus blog ini tapi juga tidak ada waktu berpesta tahun baru karena tepat di Tgl.1 Januari 2023 masih menuntaskan proses tutup buku.

Secarik Cerita Membuka Tahun 2023

Menyelesaikan tahun buku 2022 bukan berarti sudah tenang. Memulai tahun buku 2023 juga hampir sama tekanannya. Tapi Puji Tuhan, dengan kesiapan fisik dan mental sangat mendukungku menyelesaikan berbagai tugas kantor.

Makanya, aku sengaja tidak menyentuh kerjaan di dunia blog dan sosial media supaya bisa fokus dan sekalian menjaga kesehatan mental juga.

Karena yang aku tangkap dari pengalamanku, kesehatan mental terganggu akibat banyaknya noise yang membuat kita bingung fokus. Ditambah lagi lelah fisik, pikiran semrawut, belum lagi tekanan baik tekanan di kantor atau keluarga yang bisa menambah parah gangguan kesehatan mental itu.

Nah, kebanyakan orang setiap memasuki tahun baru akan membuat semacam target atau resolusi untuk perbaikan dari tahun sebelumnya.

Dulu aku seperti itu.

Tapi makin kesini, itu malah membuat aku lelah ketika resolusi atau target itu tidak tercapai. Dan memang kebanyakan tidak tercapai. Hahaha…

Namun, bukan berarti aku jadi tidak mempunyai perencanaan hidup loh. Tapi memperbaiki cara merencanakan hidup yang lebih baik.

Buang kata Target. Adanya kata target bikin aku merasa menjadi seorang sales dengan tekanan dari manajemen supaya mencapai target kalau mau gaji besar. Duh! Cukuplah tekanan dari pekerjaan, jangan lagi ditambah tekanan dari diri sendiri.

Lalu?

Sebagai gantinya aku menentukan tujuan. Karena hidup ini kan perjalanan bukan perdagangan. Jadi, tujuan adalah titik-titik kemana perjalanan ini seharusnya singgah agar hidup tetap berlanjut.

Ah, ribet ya kayak pujangga.

Gini, gini…alih-alih pusing dengan ramalan cuaca ekstrem atau ramalan badai resesi ekonomi, aku mencoba berpikir realistis soal masa depan.

Usia yang tidak lagi muda.

Pensiun yang semakin dekat.

Kebutuhan hidup sebagai salah satu generasi sandwich yang semakin besar.

Dan…fisik yang tidak lagi kuat.

Didasari 4 hal di atas, aku mulai membuat perencanaan tujuan yang bukan hanya untuk tahun 2023 saja tapi untuk jangka panjang.

Mulai dari ilmu-ilmu baru yang harus aku pelajari, buku-buku apa yang aku baca, keahlian-keahlian apa yang harus aku asah, gaya hidup apa yang harus diperbaiki supaya fisik tetap fit mencapai tujuan, dan pastinya pendidikan anak yang tak lupa harus dipersiapkan. Kaemua yang dikerjakan ini ya ujung-ujungnya untuk anak juga, hehehe.

Then…

Mmmm…banyak doa, banyak usaha, dan selalu rendah hati. Itu pertama yang harus dibanyakin. Jadi setiap hari bisa selalu punya harapan.

Harapan yang membuat kita berani meskipun sedang ketakutan.

Harapan yang membuat kita menghirup udara untuk bernapas walaupun sedang sekarat.

Seperti tertulis di buku Segala-galanya Ambyar dari Mark Manson, Harapan adalah bahan bakar untuk mesin mental kita.

Segala-galanya Ambyar

Nah, untuk mencapai tujuan atau target atau resolusi atau apalah itu di tahun 2023 ini, miliki dulu harapan. Bisa jadi kan tahun-tahun sebelumnya itu hidup kita hancur lebur sampai kita takut berharap ada kebaikan di tahun berikutnya.

Tapi, kabar baiknya di atas tadi. Harapan itu sebagai bahan bakar supaya mental kita tetap terjaga baik. Karena harapan yang menggerakkan kita untuk mencapai tujuan-tujuan tadi, apkah itu target atau resolusi.

Sepintar-pintarnya kamu, kalau tidak mempunyai harapan yang baik, seperti tidak ada gunanya lagi melanjutkan perjalanan hidup.

Berharap. Berusaha. Berdoa.

2023. Go Ahead!

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

1 Comment
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Fanny_dcatqueen

Dulu pas aku msh kerja kantoran, aku juga jarang pakai Kata2 target mba, berasa jadi Doble pressure πŸ˜„. Lebih enak pakai kata resolusi, itupun aku ga mau terlalu ngoyo. Diusahain sebisanya. Biar gimana kerjaan kantor dan target kantor ttp utama

Tapi setelah resign, baru deh aku pake Kata2 target dalam setiap resolusi. Supaya makin semangat achieve, Krn toh ga ada lagi target kantor yg hrs dicapai πŸ˜„. Jadi biar ttp semangat dan tau apa yang harus aku lakuin utk mencapai itu. Ada arahnya. Intinya, tahu di mana limit diri lah. Kalo memang bikin stress, aku juga milih utk stop ngelakuin hal2 yg bikin overthinking, termasuk medsos dan update blog.

1
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x