Secarik Cerita

Caraku Membasuh Luka Diri Menahun dengan Menemukan Inner Child

Akhir tahun 2021 kututup bukan dengan euforia menyambut Tahun Baru 2022. Di saat banyak orang merencanakan berbagai kegiatan untuk mengisi malam pergantian tahun, aku malah berkonsultasi dengan seorang psikolog melalui aplikasi kesehatan secara online.

Kenapa aku sampai konsul ke psikolog? Ya, karena kondisiku yang memang sudah patut mendapat pertolongan dari seorang yang ahli menyembuhkan sakit mental ini. Eits…jangan langsung mencap aku sudah gila ya.

Kondisiku saat itu adalah penuh ketakutan, tidur tidak tenang, susah fokus, sering ngelantur alias badan dimana otak dimana, dan juga sakit secara fisik berupa sakit kepala. Kondisi ini semakin parah karena tidak adanya waktu untuk diri sendiri atau bercengkrama dengan teman dan keluarga akibat porsi kerja yang memang overload.

Aku mencoba curhat dengan beberapa teman dan saran-saran yang diberikan kebanyakan standar seperti banyak bersyukur dan berdoa. Jujur aku gak puas dengan jawaban seperti itu. Ya jelas saja aku selalu bersyukur dan banyak berdoa juga. Tapi tetap aku merasa tertekan dan begitu takut memasuki tahun 2022. Karena aku merasa di tahun 2021 banyak kesalahan-kesalahan, jadi aku takut aku tidak bisa memberikan performa terbaik dan hukuman apa kalau aku gagal nanti.

Aku bersyukur sekali Teh Ani Berta memfasilitasi kami para member komunitas ISB dengan Webinar “Bertemu dengan Inner Child” pada tgl.19 Maret 2022 dengan narasumber Teh Diah Mahmoed dan Mas Dandi Birdy dari Dandiah Care. Dari webinar ini akhirnya aku tau akar dari sakit mentalku tadi. 

Inner Child. Aku mulai sadar dan mencoba flashback kehidupanku untuk bisa bertemu dengan Inner Child-ku yang sepertinya terluka. 

Apa itu Inner Child?

Pengertian Inner Child sendiri dapat dijabarkan seperti slide dibawah.

Inner Child

Jadi, Inner Child itu bisa secara positif kalau membentuk perilaku yang baik tapi bisa secara negatif kalau membentuk perilaku negatif atau merugikan/menyakitkan.

Nah, balik ke kasusku tadi, Inner Child yang ada di dalamku adalah Inner Child yang negatif karena membentuk perilaku yang menyakitkan diriku sendiri secara psikis. Aku jadi penuh ketakutan dan tidak mempunyai kualitas mindfulness yang baik karena sering kesulitan fokus atau selalu merasa dikejar oleh tuntutan ini itu.

Memang, Inner Child itu tidak selamanya akibat dari pola pengasuhan. Tapi berdasarkan survey yang dilakukan oleh Dandiah Care, dari 347 orang sebagai sampel, ada 82% orang dewasa yang mengalami Inner Child yaitu luka akibat pola pengasuhan orangtua.

Dari kenyataan ini, mungkin muncul pertanyaan, apakah ada orangtua yang durhaka? Sebagai mahluk beragama yang juga sudah menerima beragam ajaran agama bagaimana bersikap terhadap orangtua, aku juga tidak mau gegabah bilang orangtuaku durhaka karena bisa jadi cara pengasuhan yang mereka terapkan ke aku itu sebenarnyabertujuan untuk kebaikanku. Hanya saja mungkin caranya agak menyimpang.

Seperti aku, setelah tau apa penyebab dari Inner Child yang aku miliki yaitu luka dari pola pengasuhan, aku tidak lantas berontak dan teriak kepada orangtua kenapa mereka melakukan ini. Sebagai orang yang sudah dewasa, yang bisa aku lakukan adalah mencari referensi bagaimana membasuh luka yang sudah menahun kuderita ini dan sebisa mungkin tidak mewarisi luka ini ke anakku dengan cara tidak melakukan model pola pengasuhan yang aku terima dari orangtuaku. Dan pola pengasuhan yang aku terima adalah berupa parent way, dimana orangtua dengan otoriter mengatur anak untuk selalu menuruti setiap aturan orangtua dan ada kemarahan atau ancaman apabila tidak menuruti.

Ini Caraku Membasuh Luka Diri Setelah Bertemu Inner Child

Hari ini, Kau berdamai dengan dirimu sendiri

Kaumaafkan Semua salahmu ampuni dirimu

Hari ini Ajak lagi dirimu bicara mesra

Berjujurlah

Pada dirimu, kau bisa percaya

Maafkan semua yang lalu

Ampuni hati kecilmu

Luka, luka, hilanglah luka

Biar tent’ram yang berkuasa

Kau terlalu berharga untuk luka

Katakan pada dirimu

Semua baik-baik saja

Bisikkanlah, Terima kasih pada diri sendiri

Hebat dia, Terus menjagamu dan sayangimu

Suarakan, Bilang padanya, jangan paksakan apa pun

Suarakan, Ingatkan terus aku makna cukup

Luka, luka, hilanglah luka

Biar senyum jadi senjata

Kau terlalu berharga untuk luka

Katakan pada dirimu

Semua baik-baik saja

Bila lelah, menepilah

Hayati alur napasmu

Luka, luka, hilanglah luka

Biar tent’ram yang berkuasa

Kau terlalu berharga untuk luka

Katakan pada dirimu

Semua baik-baik saja

Luka, luka, hilanglah luka

Biar senyum jadi senjata

Kau terlalu berharga untuk luka

Katakan pada dirimu

Semua baik-baik saja

Semua baik-baik saja

Diri – Tulus

Hehehe..itu tadi lirik lagu Diri dari Tulus yang memang sangat relate dengan pembahasan ini. Dan ya, memang hanya dengan cara berdamai dengan diri sendiri, maka luka-luka itu akan sembuh. 

Teh Diah juga memaparkan bahwa dalam proses pembasuhan luka akibat pola pengasuhan yang berujung pada munculnya Inner Child, ada 3 metode ditinjau dari Pendekatan Psiko Analisa yaitu :

  1. Forgiveness     : Memaafkan
  2. Grateful            : Bersyukur
  3. Empowering    : Keberdayaan.

Nah, karena aku tidak mungkin berontak dan marah-marah ke orangtuaku atas kesalahan pola pengasuhan mereka, hal pertama yang aku bisa lakukan adalah Memaafkan orangtuaku. Memaafkan diriku atas kegagalan-kegagalan. Selanjutnya, setelah aku membuka hati seluas-luasnya untuk memaafkan, aku bersyukur untuk setiap keberhasilanku walaupun itu kecil dan bagi orang hal yang biasa saja. Dan….akhirnya aku bisa mengumpulkan berbagai energi positif untuk memberdayakan diri bahwa aku akan bisa melewati setiap proses kehidupan dan bahkan setiap kegagalan. 

Dan memang, setelah 3 bulan memasuki tahun 2022, apa yang aku takutkan di akhir tahun 2021 kemaren tidak terjadi dan malah banyak kemudahan-kemudahan yang muncul. Thank God! Akhirnya aku bisa berdamai dengan luka masa lalu untuk bisa memiliki kedamaian didalam diri.

Aku Tidak ingin Anakku Mengalami Inner Child sepertiku

Inner Child yang aku miliki memang bukan karena faktor broken home. Dan setiap orang selalu punya peluang mengalami Inner Child, entah itu dari faktor pengasuhan atau pun yang lainnya. 

Aku pun tidak ingin mewariskan Inner Child yang kumiliki ke anakku. Contohnya, kalau dulu aku wajib juara kelas, saat ini aku tidak pernah mewajibkan anakku menjadi juara kelas tapi wajib belajar sesuai kemampuan otak yang dimiliki.

Aku juga terkadang ikut terlibat dengan hobi anakku seperti menulis cerpen atau puisi tanpa memaksanya harus menjadi juara menulis. Mengajarkannya bagaimana bersikap ketika kalah atau mendapat kritik dari pembaca terhadap tulisannya.

Sesekali aku juga ikut bermain Mobile Legend yang pastinya memang aku akan kalah dan menyebabkan timku habis diamuk tim lawan. Hahaha…Oiya, kami juga sama-sama menyukai penyanyi Tulus dan anakku bisa bebas bercerita tentang aktor korea favoritnya.

Tapi, aku tetap menampilkan sisi kerasnya orangtua untuk masalah disiplin dan kejujuran. Oiya ada lagi, aku masih melarangnya pacaran dan berpakaian seksi. Walaupun mungkin aslinya anakku sudah mulai curi-curi pandang juga sih. Hehehe…sebagai antisipasi aku mendorongnya untuk lebih fokus melakukan hobi menulisnya.

Well, Pak Dandi dan Teh Diah menjelaskan juga bahwa dalam diri setiap orang ada 3 jenis ego dimana kita bisa memakainya untuk setiap situasi. Di saat bermain dengan anak, kita bisa mengeluarkan sisi kekanakan. Di saat menegur, kita bisa mengeluarkan sisi orangtua kita. Dan di saat mendengar curhat anak, kita bisa mengeluarkan sisi orang dewasa yang bisa menjadi sahabat bagi anak.

Kesimpulan

Jangan pernah menunda untuk menyembuhkan setiap luka diri sebelum menjadi sakit mental yang parah. Setelah bertemu Inner Child, perbanyak referensi bagaimana membasuh luka yang ada. Dan segera putuskan rantai Inner Child ke generasi selanjutnya. Salah satu Referensi yaitu membaca buku-buku karya Teh Diah dan Pak Dandi yang banyak membahas masalah membasuh luka pengasuhan.

Aku siap menjadi pribadi yang lebih berdaya. Kamu juga pasti bisa!!!

0 0 votes
Article Rating
Subscribe
Notify of
guest

21 Comments
Oldest
Newest Most Voted
Inline Feedbacks
View all comments
Bundamami Devi

Menarik banget tulisannya Mbak… Jadi bikin introspeksi tentang pola pengasuhan pada anakku saat ini…
Makasih info dan insight-nya ya Mbak..

Siswiyanti sugi

Senang membaca progress dan kontemplasi yang Mbak alami. Sepakat dengan Stop di Kita agar tak ada anak2 lain yang mengalami inner child. Semoga kita sebagai orangtua bisa mendidik dengan waras dan bijaksana. Sehat bahagia selalu, Mbak Henny 🤗

inatanaya

Yup inner child harus diselesaikan secara tuntas. Jika tidak akan membuat relasi dengan teman,kolega atau siapa pun jadi tidak baik. Setiapi kali ada inner child yang timbul harus dicarikan red button, dan throw back dan selesaikan.

Maria G

webinar bareng Ibu Diah Mahmudah sangat makjleb ya?

saya sampai bolak balik denger, karena semakin didenger semakin paham

Mutia Ramadhani

Inner child lebih banyak membentuk perilaku negatif. Contoh sederhana, anak yang keseringan lihat orang tuanya bertengkar pas kecil, kelak saat dia menjadi ayah ibu juga sadar atau tidak melakukan hal sama terhadap anaknya. Setiap orang rata-rata punya inner child ya mba. Waktu sembuhnya pun beda-beda. Syukurlah mba sudah berhasil melewatinya.

Fenni Bungsu

Membasuh luka mungkin bukan hal yang mudah.
Apalagi inner child bakal tetap ada
Namun harus tetap berusaha, demi kebaikan diri juga dengan mengubah mindset ya

Ivayana

Innerchild emang harus segera diobati layaknya oenyqkit fisik, krna risikonya lebih mengerikan apalagi buat seorang ibu

Talif

Benar banget sih kita sebagai orang tua harus mulai dan fokus untuk memutuskan rantai dari inner child ini. Tinggal memilah dan memilih pola asuh yang baik untuk anak agar terhindar dari inner child. Apalagi ketika kita memiliki masa lalu yang yang terkait inner child ini sehingga lebih mudah untuk mencegah dalam penerapannya.

Baru aja kemarin bahas tentang inner child ini sama temen, bahasan yang keliatan sepele padahal sebenernya penting banget untuk diketahui

Rahmah

Anger Management yang aku perlukan saat ini karena luka pengasuhan karena anger yang tak terkendali sepertinya

eka fitriani larasati

aku bersyukur deh kak, sekarang banyak pihak yang peduli terhadap luka pengasuhan, dulu jamanku gak ada praktisi seperti Dandiah care. Karena cara pengasuhan ya semua begitu, main otoriter, disiplin dan main fisik. belum termasuk verbal abused yang dianggap biasa aja. semoga dengan banyaknya praktisi seperti Dandiah care gak ada lagi parent yang semena-mena mendidik anak dan lebih peduli terhadap inner child.

Ova forlendy

Aku juga mengikuti webinar bersama Dandiah Care. Banyak sekali pelajaran dan ilmu terkait inner child dari webinar tersebut. Dan aku mulai memahaminya. Bagiku agar inner child tidak terbawa hingga dewasa adalah dengan memaafkan apa yang terjadi dan hilangkan rasa dendam.

Tentunya tidaklah mudah, tapi jika yakin, kita bisa mengatasinya.

hallowulandari

semoga luka-luka inner child bisa terobati ya kak, dan semoga pengetahuan-pengetahuan baru kaya gini bisa jadi bekal kelak kita sebagai orang tua dalam mendidik dan mengasuh anak. Semoga ga ada kesengajaan luka-luka yang terjadi karena salah asuh dan kekerasan atau emosi berlebih

Menarik banget mbak mengenai innerchild ini, terimakasih banyak sharingnya ya kak 🥰

fanny_dcatqueen

Luka Krn pengasuhan zaman kecil, memang susah sekali utk sembuh. Aku ngerasain juga, Trutama dengan papa, di mana hubungan kami memburuk pas mulai SMU. Aku jadi lebih suka sekolah di luar kota hanya demi ga ketemu papa. Padahal pas kecil hubungan kami baik2 aja. Ntah apa yg mentrigger jadi ga cocok hingga sekarang.

Cuma aku bersyukur luka itu ga sampe membuatku sakit dan trauma. Apalagi ada suami yg sangat mensupport, dan menghibur. Mungkin kalo ga ada dia, akupun bakal butuh pertolongan dari psikolog supaya ga semakin luka.

Bener mba, luka dari inner child, sebisa mungkin jangan kita terusin ke anak2. Akupun ga tega kalo sampe mereka ngerasain hal yg sama dari ortunya

Efa

Seru banget Ka bahasan tentang innerchild ini. Ngomong ngomong tentang melepaskan diri dari inner child yang negatif, pr banget ya memaafkan ini. Kadang udah dimaafin, tapi suka nongol lagi ke pikiran, akhirnya marah lagi. Prosesnya panjang sekali. Semoga kita bisa sama sama memaafkan dengan seikhlas ikhlasnya sampai ngga ada lagi luka yang tersisa

Sarieffe

Dari seminar pak Dandy dan Bu Diah saya juga belajar banyak untuk mengelola stress mba. Jadi lebih menghargai, mencintai diri dan lega bis memaafkan diri sendiri yang pernah gagal. Inner child juga punya sisi positif ya..

Rika Widiastuti Altair

Memang nggak mudah ya kak untuk begitu saja melupakan apa yang dialami di masa lalu. Memaafkan dan ikhlas jadi kunci agar kita bisa keluar dari bayang2 luka ini dan membasuhnya lebih mudah

Siswiyanti sugi

Simpulan bijaksana dari pengalaman hidup masa lalu. Luka-luka masa kecil itu seharusnya memang berhenti di kita. Anak-anak kita dan generasi di bawahnya berhak mendapat perlakuan yang jauh lebih baik dan bijaksana dari kita, orangtuanya.

[…] waktu yang lalu aku pun sudah pernah menuliskan pengalamanku tentang gangguan kesehatan mental yang sempat […]

21
0
Would love your thoughts, please comment.x
()
x